The Heritage

October 6, 2007

Lesson Learned from Rasa Sayange Case

Filed under: culture,indonesia,malaysia,social — rubyvir @ 1:15 pm

Rasa Sayange is used as the theme song of Malaysian official tourism campaign. There, they modify the title as Rasa Sayang (without “e”, cause -e suffix comes from Indonesia’s Maluku/Moluccas dialect which doesn’t exist in Malay culture) as well as the lyrics. Many Indonesians feel hurt because of this and some of them even threatened to sue Malaysia.

Malaysian Tourism Minister Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor argues that Rasa Sayange is a folk song from the Nusantara (Malay archipelago) and Malaysia is part of the Nusantara. He claimed that they have been singing the song for ages. He even challenged back Indonesia to proof that Rasa Sayange is exclusively owned by Indonesia.

Although I never like this guy, but I think he’s legally on the right position. As Malaysian politician, he’s done the right thing as well to counter Indonesia’s claim.

Even if we know that Indonesia is right, Rasa Sayange is originated from a Far East Indonesia’s province of Maluku, I really don’t think Indonesia is in the good position to sue Malaysia. The song is already in public domain. We don’t know exactly who the original song writer is. However, lately Andre Hehanussa claimed that the song was written by Katje Hehanussa in 1940. Well, let’s see whether he can do something about it.

In Indonesia, Rasa Sayange is already considered as national folk song. It’s not sung exclusively by Ambonese or Moluccans. However, we still recognized that song to be originally from Maluku. So if the province of Jawa Tengah (where Javanese come from), or Sumatera Barat (where Minang come from), or Sulawesi Selatan (where Bugis come from) want to create a provincial tourism campaign using Rasa Sayange as the theme song, it would be completely ridiculous. Totally misplaced.

Now you see, why many Indonesians feel infuriated when that song is now used by some foreign country which has nothing to do with Maluku (well, although they claim to be serumpun and for that reason they feel they have the right to use the song).

From the other side, if we want to understand Malaysia, then I think many Indonesians will be surprised. Let’s see the truth. Even their national anthem, Negaraku, was borrowed from a Hawaiian song, Mamula Moon.

Now you see, if they can do such thing easily to their national anthem, then using Maluku’s Rasa Sayange as their official tourism theme song is nothing for them. Can’t you see that it’s in their blood? There’s nothing you can do about it. Go ahead and ask Malaysian about this case. Many of them will answer: “Who cares?”, “Why all this fuss?”, “I don’t understand Indonesians, why do they make a big deal about it?” and so on.

All this time Indonesia and Malaysia are frequently considered as serumpun but now you see that we indeed think differently.

My conclusion is Indonesians only react when there’s an action from other countries. They don’t proactively protect their own assets (be it cultural heritage, cuisine, islands, or whatsoever else). What a shame.

Well, if Indonesians are smart enough, then this must be a very good lesson learned for them. Be a good marketer. Tell the world about your cultural richness. I heard that Indonesia had planned to make 2008 as Visit Indonesia year, right? So, it’s time to do some actions! I know Indonesia has many talented people such as Hermawan Kartajaya and many more.

For those who know the whole truth, I know you can conclude that Malaysians are either very flexible or very uncreative. That of course depends on your point of view. As a nation, undoubtedly they are good marketer though, at least compare to Indonesia. For the latter, I think Indonesia should learn from them but definitely not for the former.

Picture is taken from: http://www.yale.edu/seas/indonesia_rel_2002lrg.jpg

Advertisements

April 10, 2007

Tentang Premanisme

Filed under: culture,indonesia,social — rubyvir @ 4:00 pm

Seminggu ini saya lagi cuti di Bandung. Setelah sekian lama tinggal di negeri orang, baru di kesempatan ini saya teringat kembali kalau ada satu lagi karakter jelek yang dimiliki oleh banyak orang Indonesia selain korupsi, yaitu premanisme.

Yang saya maksud premanisme ini adalah karakter merasa diri lebih berkuasa daripada orang lain, orang lain harus tunduk atau mengalah pada saya, entah secara halus maupun dengan cara kekerasan, dan orang lain tak boleh menyinggung saya, kalau orang lain menyinggung saya maka orang itu harus diberi pelajaran supaya tahu siapa yang berkuasa di sini. Saya tidak terlalu ngerti sejarah tapi perkiraan saya karakteristik ini mulai tumbuh subur sejak Orde Baru berkuasa lebih dari empat puluh tahun yang lalu (maaf kalau salah….)

Pengalaman pertama yang mengingatkan saya akan hal ini adalah ketika saya mulai menginjak kembali jalanan kota Bandung. Hari Ahad 8 April yang lalu, saya baru saja mengantar keluarga belanja di Giant Pasteur. Waktu sedang melaju kencang di Jalan Junjunan, dari dalam sebuah jalan kecil di sebelah kiri depan ada sebuah mobil yang hendak memotong masuk ke jalan Junjunan. Karena mobil itu tidak menunjukkan tanda-tanda melambat apalagi berhenti saat hendak berbelok masuk dan saya sedang melaju kencang ke arah persimpangan dengan jalan kecil itu, tentu saja saya membunyikan klakson mobil untuk memberi peringatan. Seingat saya waktu mengambil SIM hampir dua puluh tahun yang lalu, aturannya pengendara yang sedang melaju di jalur utama memiliki prioritas, sedangkan pengendara yang mau memotong harus berhenti dulu tengok kiri kanan.

Si pengendara mobil segera berhenti tepat sebelum saya berlalu melintasinya. Sesudah itu saya tidak terlalu memikirkannya lagi sampai beberapa saat kemudian saya sadar kalau mobil di belakang saya terus-menerus membunyikan klaksonnya kepada saya. Saya sempat heran, apa salah saya, sampai saya memperhatikan mobil di belakang. Mobil Innova silver berpelat B yang dikendarai oleh seorang lelaki bertampang oriental. Nah, itu kan mobil yang tadi mau memotong saya tanpa tengok kiri kanan dulu itu? Rupanya dia dengan dendam mengejar saya dan berusaha menyalip saya..!! Benar saja, setelah saya beri dia jalan barulah dia tampaknya puas. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala…

Pengalaman lainnya terjadi tidak lama setelah itu. Saat itu saya mau keluar dari Setra Sari. Saya lupa tepatnya nama jalannya tapi buat yang kenal daerah Bandung Utara, tentunya tahu ada jalan keluar dari Setra Sari ke Gegerkalong Hilir. Jalannya sangat curam mungkin sekitar 30 atau 40 derajat.

Saat itu mobil saya sedang mendaki jalan itu untuk keluar ke Gegerkalong. Waktu hampir sampai di ujung jalan, tiba-tiba sebuah Corolla tanpa basa-basi hampir menabrak mobil saya… Jelaslah kalau si pengendara Corolla punya dua kesalahan: pertama, mau berbelok tidak berhenti dulu tengok kiri kanan, apalagi tikungan itu cukup tajam dan orang tak akan bisa melihat mobil dari arah berlawanan kecuali bila telah berada di tikungan itu. Kedua, dia telah mengambil jalur orang lain saat berbelok sehingga moncong mobilnya tepat mau berciuman dengan mobil saya yang saat itu berada di jalur yang benar.

Tentu saja saya langsung berhenti di tanjakan sambil membunyikan klakson. Mobil itu pun lalu berhenti. Lucunya, walaupun di belakangnya kosong dan datar, bukannya mundur kek, dia malah lantas kembali maju sambil bermanuver mengitari mobil saya. Saking mepetnya, dia sampai harus menilep kaca spionnya supaya tidak menggores mobil saya yang terpaksa berhenti tanpa daya di tanjakan curam di jalur saya yang benar untuk memberi jalan juragan yang mau lewat. Kembali saya cuma geleng-geleng kepala…

Total jenderal, dalam waktu setengah hari itu, saya mengalami empat kali kejadian sejenis di jalanan kota Bandung! Sisanya saya rasa tidak perlu diceritain lah… Buat Anda yang tinggal di Bandung, Jakarta atau Medan, saya yakin kejadian seperti itu mungkin sudah jadi makanan sehari-hari. Buat saya yang sudah agak lama tidak tinggal di Indonesia, kejadian-kejadian “kecil” seperti itu terus terang cukup membuat shock juga.. mengingatkan kembali akan kenangan masa lalu yang buruk.. 🙂

Teringatkan bahwa memang banyak orang Indonesia yang berperilaku seperti itu. Merasa dirinya berkuasa dan tidak peduli dengan orang lain. Orang lain harus tunduk dan mengalah padaku. Tak ubahnya seperti seorang preman.

Satu lagi peristiwa yang sedang hangat saat saya berkunjung ke Indonesia ini adalah kasus pembunuhan praja IPDN oleh seniornya. Peristiwa yang scope-nya nasional ini sekali lagi mengingatkan betapa penyakit premanisme ini sebetulnya cukup parah menyerang bangsa Indonesia.

Saya ingat dulu waktu saya masih jadi mahasiswa baru, saya menolak berpartisipasi dalam kegiatan OS di ITB karena satu masalah prinsip. Sebagai manusia bebas, saya merasa punya hak yang hakiki untuk menolak diperlakukan sewenang-wenang oleh orang lain atas alasan apa pun. Walaupun mungkin tingkat kekerasan OS di ITB relatif tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan di IPDN (benar nggak ya?) dan buat orang lain tidak jadi masalah, buat saya sih itu tetap saja masalah prinsip.

Saya cuma mau mengingatkan, alangkah baiknya kalau kita bisa bersama-sama mengikis budaya premanisme ini. Cuma tentu saja kalau Anda tak mau peduli dan menganggap sepi penyakit ini, selamanya penyakit ini akan menggerogoti bangsa kita sampai mungkin mencapai stadium yang parah.

Create a free website or blog at WordPress.com.